Lumajang — Upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan saling menghargai terus mendapat perhatian dalam dunia pendidikan. Hal tersebut menjadi salah satu fokus mahasiswa STIT Muhammadiyah Lumajang dalam menyiapkan program edukasi anti-bullying berbasis akhlak Islami di MI Nurul Huda Bagusari, Jogotrunan, Kabupaten Lumajang.
Persiapan program dilakukan melalui kegiatan observasi dan wawancara oleh salah satu mahasiswa STIT Muhammadiyah Lumajang, di MI Nurul Huda pada Kamis (6/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari persiapan pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sekaligus upaya memahami kondisi dan kebutuhan peserta didik sebelum program dijalankan.
Program yang disiapkan mengusung tema “Sekolah Ramah Teman: Edukasi Anti Bullying Berbasis Akhlak Islami.” Melalui program tersebut, mahasiswa ingin mengintegrasikan edukasi pencegahan perundungan dengan nilai-nilai akhlak Islami, seperti menjaga ucapan, menghargai orang lain, membangun sikap saling menyayangi, dan menciptakan hubungan pertemanan yang positif.
Dalam tahap observasi, mahasiswa melakukan wawancara dengan Kepala MI Nurul Huda, Subkhan, S.Pd. Pembahasan mencakup kondisi sekolah, proses pembelajaran, kebiasaan peserta didik, hingga karakteristik interaksi antarsiswa.
Berdasarkan hasil wawancara, MI Nurul Huda tidak hanya menekankan pencapaian akademik, tetapi juga memberikan perhatian terhadap pendidikan karakter melalui pembiasaan akhlak Islami. Salah satunya dilakukan dengan membiasakan peserta didik mengucapkan kalimat thayyibah dalam aktivitas sehari-hari.
Dalam interaksi antarsiswa, pihak sekolah juga masih menemukan adanya candaan antarteman yang perlu mendapatkan arahan agar tidak berkembang menjadi perilaku yang dapat menyakiti atau merugikan teman. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan materi edukasi anti-bullying yang akan diberikan kepada peserta didik, khususnya siswa kelas VI.
Menurut Kepala MI Nurul Huda, program tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan penguatan karakter peserta didik.
“Program ini sangat baik sebagai penguatan pendidikan karakter. Kami berharap peserta didik semakin memahami pentingnya saling menghargai, menjaga ucapan, dan menerapkan akhlak Islami dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Subkhan, S.Pd.
Bagi mahasiswa, observasi menjadi tahapan penting sebelum program KKN dilaksanakan. Dengan memahami kondisi sekolah dan karakteristik peserta didik terlebih dahulu, materi edukasi yang diberikan diharapkan tidak bersifat umum, tetapi dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa.
Program “Sekolah Ramah Teman” nantinya diarahkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai pentingnya membangun pertemanan yang sehat serta mengenali perilaku yang dapat menyakiti orang lain. Pendekatan berbasis akhlak Islami diharapkan dapat membuat pesan pencegahan perundungan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
Lebih dari sekadar kegiatan KKN, program tersebut menjadi bentuk keterlibatan mahasiswa dalam merespons persoalan pendidikan yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Pencegahan perundungan sejak dini dinilai penting agar sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang bagi anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan menghargai keberagaman karakter.
Melalui observasi dan persiapan program ini, mahasiswa STIT Muhammadiyah Lumajang berharap edukasi yang akan diberikan dapat memperkuat karakter siswa kelas VI sekaligus mendorong terciptanya budaya pertemanan yang lebih positif di lingkungan MI Nurul Huda Bagusari.
Jurnalis Warda Arum Sari Loka