LUMAJANG — Lulusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dituntut tidak hanya berfokus menjadi pengajar di kelas, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan zaman. Mahasiswa PGMI perlu membekali diri dengan pola pikir bertumbuh (growth mindset), kompetensi abad ke-21, serta keterampilan membangun personal branding digital secara etis dan konsisten.
Hal tersebut mengemuka dalam webinar nasional bertajuk "Membangun Mindset, Kompetensi & Personal Branding di Abad-21" yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Lumajang secara daring melalui Zoom Meeting, Minggu (30/8/2026) malam.
Dua akademisi sekaligus dosen STIT Muhammadiyah Lumajang hadir sebagai pemateri utama dalam kegiatan tersebut, yakni Yusron Al Fajri, M.Pd., dan Indah Ainur Rohmah, M.Pd. Jalannya diskusi dipandu oleh Ulil Maufiroh, M.Pd., yang juga merupakan dosen dan praktisi pendidikan setempat.
Dalam pemaparannya, Yusron Al Fajri menekankan pentingnya rekonstruksi pola pikir generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan integrasi Kecerdasan Buatan (AI) dalam dunia pendidikan. Menurutnya, teknologi hadir bukan untuk menggantikan posisi pendidik, melainkan menjadi alat bantu pembelajaran.
"Kita harus memiliki keyakinan bahwa kemampuan dapat terus berkembang. Kegagalan bukan akhir dari proses, melainkan bagian dari perjalanan untuk menemukan cara yang lebih baik," ujar Yusron.
Ia menambahkan, penguasaan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi menjadi kunci utama agar mahasiswa PGMI tetap relevan.
"Teknologi boleh berkembang semakin canggih, tetapi pendidikan tetap membutuhkan manusia yang mampu membimbing, memberikan keteladanan, dan membangun karakter peserta didik," tegasnya.
Sementara itu, Indah Ainur Rohmah memaparkan strategi pembentukan personal branding profesional bagi calon pendidik. Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak menunggu hingga lulus untuk mulai membangun reputasi dan identitas diri.
"Personal branding bukan tentang menjadi orang yang paling terkenal, melainkan bagaimana orang mengenal kita melalui nilai, kemampuan, dan karya yang ditunjukkan secara konsisten," kata Indah.
Indah juga menyoroti pemanfaatan media sosial oleh mahasiswa era digital. Menurutnya, jejak digital harus diisi dengan karya positif dan beretika, bukan sekadar mengejar popularitas atau jumlah pengikut semata.
"Jangan hanya mengejar bagaimana kita terlihat, tetapi pikirkan juga nilai apa yang bisa kita berikan. Karya yang konsisten dan bermanfaat akan membentuk reputasi dengan sendirinya," tuturnya.
Melalui kegiatan ini, STIT Muhammadiyah Lumajang mengajak para peserta untuk melihat luasnya peluang kontribusi lulusan PGMI di masa depan. Selain menjadi tenaga pengajar profesional, lulusan PGMI diharapkan mampu berinovasi dan memberikan dampak sosial melalui karya-karya yang berkesinambungan.
"Mulailah membangun diri sejak sekarang. Kenali potensi, kembangkan kompetensi, hasilkan karya, dan tunjukkan nilai yang kita miliki," tutup Indah.
Jurnalis Siti Mutmainah